Jambi – Selain penanganan melalui operasi darat, BNPB dalam menangani karhutla juga melalui udara dengan pengerahkan helikopter water bombing serta penambahan personel di lapangan. Pada Kamis (3/9), sebanyak 20 personel dari sejumlah instansi diperkuat untuk mendukung proses pemadaman dan pendinginan di wilayah terdampak.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi Bachyuni Deliansyah mengatakan, penambahan personel diperlukan untuk memperkuat proses pendinginan, terutama pada area yang sebelumnya telah berhasil dipadamkan. Selain itu, upaya pencegahan meluasnya kebakaran dilakukan dengan membuat sekat bakar menggunakan alat berat berupa ekskavator.
“Sekarang ada 5.984 orang tim darat dan kita arahkan untuk menambah sekitar 20 orang. Hari ini, 3 September, baru diterbitkan surat keputusannya. Alat berat yang sebelumnya mendapat dukungan dari BNPB juga kita manfaatkan untuk penanganan di lapangan. Penambahan personel berasal dari Basarnas, Brimob, dan Batalyon Infanteri 142,” jelas Bachyuni.
Penanganan karhutla dengan pengerahkan helikopter water bombing dan mengintensifkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Provinsi Jambi. OMC telah berlangsung selama periode 26 Agustus hingga 2 September 2026 dengan total delapan sortie dan waktu penerbangan mencapai 15 jam 32 menit.
Dalam pelaksanaannya, operasi tersebut menggunakan 8.000 kilogram natrium klorida (NaCl). Di sisi lain, kondisi cuaca menjadi salah satu tantangan dalam mendukung upaya penanganan karhutla.
Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, hingga 10 September 2026 diperkirakan belum terdapat pertumbuhan awan. Kondisi tersebut berpotensi membatasi pelaksanaan OMC sehingga satgas akan mengoptimalkan patroli serta pemantauan kondisi cuaca guna mendukung penanganan karhutla di lapangan.
Sebagai bagian dari upaya memperkuat penanganan karhutla di Jambi, BNPB juga menyiapkan sejumlah dukungan bagi satgas dan personel gabungan yang terlibat.
Hal tersebut disampaikan Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M., dalam rapat koordinasi penanganan karhutla di Jambi, Rabu (2/9/2026).
Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi meluasnya sebaran api menjelang puncak musim kemarau yang diprediksi berlangsung pada September 2026.
Berdasarkan data yang dihimpun BNPB, total luas lahan yang terbakar akibat karhutla di Provinsi Jambi hingga Kamis (3/9/2026) mencapai 1.879,31 hektare.
Pada hari yang sama, estimasi area terbakar tercatat seluas 47,5 hektare. Dari luasan tersebut, 37 hektare telah berhasil dipadamkan, sedangkan 11,5 hektare masih dalam penanganan melalui operasi darat, water bombing, maupun operasi gabungan.
Sementara itu, hasil pemantauan menunjukkan terdapat 182 titik hot spot, yang terdiri dari 34 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi dan 148 titik dengan tingkat kepercayaan rendah.
Dari estimasi 47,5 hektare area terbakar pada Kamis (3/9), terdapat 20 fire spot, dengan tiga di antaranya merupakan titik lama yang masih dalam proses pemadaman.
Dari total 37 hektare area yang berhasil dipadamkan, sebanyak 31 hektare ditangani oleh satgas darat, sedangkan enam hektare lainnya dipadamkan melalui operasi water bombing.
Alat berat berupa ekskavator juga dikerahkan untuk membuat sekat bakar dan kanal air untuk memadamkan sekaligus mendinginkan lahan di Desa Air Merah, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Kamis (3/9).
Pemadaman lahan terbakar oleh helikopter water bombing, juga dilakukan di daerah Renah Mendalu, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi, pada Kamis (3/9). Sebanyak 176.000 liter air digunakan dengan total 44 kali droping di lahan yang terbakar.
Pemadaman juga dilakukan oleh helikopter water bombing di Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, pada Kamis (3/9). Sebanyak 124.000 liter air dengan 31 kali dropping dilakukan untuk memadamkan api. (tugas).











