Merangin – Harga kelapa sawit baik Tandan Buah Segar (TBS) dan brondolan turun drastis sudah lebih satu minggu di Kabupaten Merangin, sehingga dikeluhkan para petani.
Penurunan harga kelapa sawit dibenarkan salahsatu pemilik Loading ramp yang berada jalur dua arah SMAN6 di Desa Sungai Ulak, Kecamatan Bangko, Kabupaten Merangin.
“Sudah lebih 1 minggu, harga kelapa sawit baik Tandan Buah Segar (TBS) dan brondolan turun drastis,”kata Aji (25) pemilik Loading ramp menjelaskan ke media ini, Jumat sore (29/5/2026).
Lanjut ia menyampaikan, bahwa harga Tandan Buah Segar (TBS) saat ini Rp2.400/kg dan harga brondolan Rp2.420/kg. Sedangkan sebelumnya harga Tandan Buah Segar (TBS) mencapai Rp3.100/kg dan harga brondolan sawit Rp4.050/kg.
Dengan turunya harga kelapa sawit tersebut sangat dirasakan bukan hanya dirinya saja sebagai pemilik Loading ramp sebagai tempat pembongkaran, penampungan sementara, dan penyortiran Tandan Buah Segar (TBS) dan brondolan,tetapi juga oleh petani sawit dimana, sangat berpengaruh terhadap perekonomiannya.
“Mudah-mudahan harga Tandan Buah Segar (TBS) dan brondolan kelapa sawit segera kembali naik lagi seperti harga sebelumnya bahkan lebih tinggi lagi, sehingga bisa lebih sejahtera baik petani dan pihak lain seperti usaha
Loading ramp,”harapnya.
Aji juga menambahkan bila harga kelapa sawit semakin merosot sangat berpengaruh ke kondisi usahanya dan para petani, dimana biaya yang ditanggung tidak seimbang antara pemasukan dan pengeluaran, karena harus tetap menjamin ongkos pekerja bongkar muat agat tidak ada penurunan serta bagi petani tidak terbebani dengan biaya lainya seperti pupuk yang harganya masih tinggi.
Terkait turunyan harga tersebut juga dikeluhkan salahsatu petani kelapa sawit minta harga kembali naik seperti semula, sehingga tidak membebani terhadap perekonomianya.
“Dengan turunnya harga Tandan Buah Segar (TBS) dan brondolan kelapa sawit sangat berpengaruh ke perekonomian petani, dimana pemasukan berkurang sedangkan pengeluaran terus bertambah, dimana harga pupuk masih mahal, biaya lainya seperti ongkos mobil untuk muat terus bertambah dan ongkos pekerja tidak bisa dikurangi,”ujar Nababan (50) menuturkan ke media ini
Ia berharap pemerintah dan pihak terkait untuk segera memikirkan nasib para petani, agar roda perekonomian terus berjalan dengan baik. (tugas/iqbal)











